Sun, 20 May 2012; 02:46:18 PM

Archive for 2011

Dokter Anak Ga Harus yang Laris

Friday, October 28th, 2011

Pengalaman beberapa kali mengantar anak berobat ke dokter, saya cenderung mencari dokter yang tidak terlalu ramai peminatnya.

Saya heran dengan orangtua yang sabar dan rela menunggu dokter berjam-jam untuk Dokter anak Tidak masuk akal menurut saya, jika kita harus mengantri berjam-jam untuk mengobati anaknya bahkan sekedar imunisasi. Bukan apa-apa, kalau anak sedang sakit dan sakit itu membuatnya tidak nyaman, tahu sendiri kan seperti apa rewelnya. Apalagi imunisasi! Rasanya tidak perlu lah antri berjam-jam supaya bisa divaksin oleh dokter beken. Di posyandu aja imunisasi dasar diberikan gratis, dan tidak mungkinlah dokter-dokter laris itu mau praktek di Posyandu yang ga ada duitnya.

Hari Minggu lalu, sekitar pukul 8 malam, di sebuah klinik ibu & anak dekat rumah kami….

Chloe demam (di atas 38,3 C maksudnya), rewel sekali, tidak mau makan, sejak kemarin pagi. Maka, kami membawanya ke klinik dekat rumah kami dengan maksud, jika demam masih berlanjut sampai hari ke-3, dan butuh diobati, sudah ada obatnya… maklum, hubby Pampi kalo hari kerja pulangnya cukup malam dan biasanya sudah dibikin sangat kelelahan oleh macetnya Jakarta – Tangerang.

pediatric.jpg Dokter yang praktek hari ini (Minggu, lho) adalah salah seorang dokter anak yang sudah terkenal laris banget di kalangan ortu di daerah sini. Saya bukan jenis ortu yang mengejar dokter laris, soalnya yang namanya dokter laris pasti ngantri berat, dan konsultasi biasanya terburu-buru.

Benar saja. Kami dapat no. urut 17, berarti sekitar 2 jam lagi-lah. Bayangkan jika membawa anak sakit yang sedang rewel, betapa tidak menyenangkannya! Belum lagi kami harus bawa bayi Kimi, kan? Karena rumah kami dekat, kami bisa tunggu di rumah saja. Syukurlah.

1 jam 45 menit kemudian, kami datang lagi. Sudah no. 15. ;) Good!

Ketika sudah sampai giliran kami, kejengkelan saya dimulai. Joel dan Chloe sedang asik bermain di tempat main yang mereka sediakan, dan Pampi sedang memanggil mereka. Perawat berkomentar, “Cepetan, Bu. Ada yang sudah nunggu lama. Dokter juga mau pulang.”

Excuse, me? Ini klinik anak-anak, kan? Ga tau kalo anak-anak lagi main itu ga gampang disuruh langsung berhenti?

Di dalam, sang dokter juga tidak lebih ramah. Chloe akhirnya masuk (saya sudah di dalam bersama Kimi), dokter bertanya tentang gejala-gejala, lalu menyuruhnya berbaring di ranjang. Setelah itu dia langsung menulis resep.

Saya mencoba menjajal seberapa informatif dokter ini, “Dok, anak kalau sakit kenapa ya, matanya sayu?”

Jawabannya sungguh melecehkan intelejensi, “Yang namanya sakit kan pasti sayu.”

Saya kejar, “Hubungannya?”

Pak Dokter agak terperanjat, sepertinya tidak mengira saya akan mengejarnya, “Orang sakit kan tidurnya ga pulas, lemes. Kita kalo lemes juga matanya sayu.”

Dia pasti akhirnya sadar kalo bukan jawaban seperti itu yang saya tunggu, ketika menambahkan sesuatu kira-kira seperti ini, “Kalau sakit kantung air mata bengkak.” Sebenarnya saya tidak terlalu menyimak apa yang dia katakan, saya cuma ingin melihat reaksi dokter laris ini.

Maka, lalu Chloe diperiksa. Tidak ada kata-kata manis membujuk untuk anak tiga tahunku. Bahkan, Joel yang keluar masuk (dan memang cukup mengganggu), ditegur oleh perawat, “Kalau nakal nanti disuntik!” WAKS.

Tentu saja saya jadi harus menenangkan Chloe yang sedang sangat tidak kooperatif.

Akhirnya, kami kembali ke meja. Dokter menulis resep, antibiotik, obat racik, dan obat alergi, karena beliau berpendapat alergi adalah 20% penyebab sakit Chloe. Menurut Pak Dokter, tenggorokan Chloe radang, ada infeksi.

“Harus antiobiotik, Dok?”

“Terserah, Ibu. Kalau ada apa-apa dengan anak ibu, pneumonia, saya tidak mau tanggung.”

Yeeee…. Ngancem. Dokter anak, kok, kayak gitu si kelakuannya? Hilang sudah respek saya pada dirinya, yang konon adalah salah satu pemegang saham klinik ibu dan anak ini.

Keesokan malamnya, kami ke RS dekat rumah. RS ini saya kenal ramah anak. Dan benar saja.

Perawat ramah menyapa, Pak Dokter pun tak kalah bersahabatnya. Chloe diajak ngobrol dulu, coba diambil dulu hatinya. Lalu diperiksa, beberapa kali Dokter membujuk Chloe yang sedang heboh menangis. *beda banget dengan kejadian semalam* Di RS ramah anak ini, anak-anak diperlakukan dengan baik, dijaga betul supaya tidak trauma. Semoga terus begitu.

“Tidak saya kasih antibiotik, ya. Tidak ada infeksi,” kata sang pediatris.

WHAT? Lalu semalam itu apa? Dokter di klinik itu ngarang? Saya berjanji dalam hati ga akan balik lagi konsul ke dia, kecuali terpaksa. :p

“Ga ada, Dok?”

Dokter menggeleng. Lalu menulis beberapa resep. Ada puyer. Saya selalu curiga dengan puyer. Oh, ternyata isinya cuma satu, itu pun dalam rangka mengurangi bobot obat agar lebih tepat untuk ukuran anak sebesar Chloe.

Begitu.

Saya selalu heran dengan dokter anak yang tidak suka anak-anak. Buat apa, Dok. Lebih baik jadi dokter kosmetik atau bedah plastik aja, kali? Duit banyak, pasien ga akan meronta-ronta cengeng, ngompol, diare, atau pun beringus.

Sigh. Udahlah. Semoga ada dokter yang baca.

Cangkir Pecah

Saturday, October 22nd, 2011

Beberapa malam lalu Chloe memecahkan cangkir keramik putih yang sering saya digunakan untuk minum teh.

Penyebabnya adalah, Chloe yang sedang asik dengan bukunya, mengira saya sudah memegang gelas itu, saat dilepaskan olehnya.

“Prang!”

Dia jelas terkejut. Ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan.

“Sorry, Ma..” cepat dia bereaksi.

Saya pandangi wajah si cantik anak perempuan saya satu-satunya ini. Dia tahu dia salah. Cukup sudah. Tidak perlu dihakimi, dimarahai apalagi dibentak.

“Yuk, kita bereskan. Chloe yang lap, ya. Mama yang pungutin pecahannya.”

Wajahnya langsung cerah. Si kecil tiga tahunku segera mengambil lap di depan pintu kamarnya. Setelah memastikan tidak ada lagi pecahan cangkir, saya ajak dia mengelapi tumpahan air di lantai kamarnya.

Malam itu, Chloe tidur pulas di kamarnya yang bekas tumpahan air di lantainya telah dia keringkan. Saya lega, karena bisa bereaksi dengan tepat. Cukup cangkirnya saja yang pecah, jangan hati anak saya.

Number Rhymes

Tuesday, October 4th, 2011

These rhymes are excellent to teach the formation of the numbers.

1 Straight down and then you’re done. That’s the way to make a one!

2 Around and back on the railroad track. Two! Two! Two!

3 Around the tree, around the tree. That’s the way to make a three!

4 Down and over and down some more. That’s the way to make a four!

5 Put on a hat. Then take a dive. Make a big round tummy. Now that’s a five! —or—- A little bit down. Circle the drive Put on a hat. That makes a five!

6 Make a loop and then a hoop! Six!

7 Across the sky and down from heaven. That’s the way to make a seven!

8 Make an ‘S’ but do not wait. Go back up and close the gate.

9 Make a hoop and then a line. That’s the way to make a nine!

0 Around, around, around you go. That’s the way to make zero!

Author Unknown

Digiscrap Tutorial: Membuat Efek Bayangan Sederhana (PS)

Wednesday, August 10th, 2011

Perhatikan gambar ini: Boys

Correct me if I’m wrong, tumpukan kertas pada gambar di atas terasa datar. Begitu flat, sehingga terasa kurang pas. Bagaimana dengan yang ini?

Boys with shadow

Sepertinya lebih baik. Betul? Lihat perbedaannya? Gambar-gambar ini bisa diperbesar ya.. klik aja.

Yang membedakan adalah efek bayangan, sehingga kertas-kertas cantik ini lebih kelihatan mirip tumpukan kertas beneran, lebih terasa ada kedalaman, ga flat. Maklum, yang namanya digital, tak lebih dari bit dan bytes-lah yang disajikan di layar komputer, sehingga butuh sedikit sentuhan bayangan agar digiscrap yang kita buat terasa lebih realistis.

Ada beberapa cara memberi bayangan, dari yang paling mudah dengan menggunakan efek drop shadow yang sudah disediakan oleh Photoshop sampai teknik yang lebih advanced. Tutorial berikut ini adalah tentang membuat efek bayangan dengan cara yang paling sederhana: drop shadow.

Jika waktu terbatas, saya menggunakan drop shadow. Jika sedang punya banyak waktu atau memang lagi rajin, baru gunakan teknik yang lebih sulit. Kekurangan drop shadow seperti ini adalah bayangan yang ditampilkan tampak sangat rapi dan seragam. Padahal kita tahu di dunia nyata tidak seperti itu, tetapi bagaimana pun, efek drop shadow lebih baik ketimbang tanpa bayangan sama sekali.

Mudah saja memberi bayangan pada tiap elemen pada digiscrap kita. Cukup dengan mengklik dua kali (double click) layer yang dimaksud, maka window kecil ini akan muncul. Beri checkmark pada Drop Shadow, dan mari kita bermain-main dengan angka-angka di situ.

Penjelasan:
Gunakan global light dengan sudut 120 derajat, ini angka yang umum dipakai. Global light berarti semua elemen di sini seolah-olah mendapat cahaya dari sudut yang sama. Yang perlu kita atur adalah distance, spread dan size-nya.

- Blend mode: saya biasanya memilih linear burn, boleh saja jika ingin menggunakan yang lain.
- Distance: 0 (nol)
- Spread : 5 untuk benda kecil, makin besar untuk elemen yang lebih besar/lebih berat. Ini perlu sedikit eksperimen.
- Size: mulai dari 6, makin besar untuk benda yang lebih besar.
- Warna: kita tidak harus menggunakan warna hitam yang jadi default drop shadow, coba saja gunakan warna lain yang lebih natural. Untuk warna terang, sebaiknya gunakan warna yang lebih lembut seperti coklat tua, atau abu-abu, atau temukan sendiri warna yang rasanya lebih pas. Bisa dimulai dengan warna yang tonenya lebih gelap dari warna benda.
Catatan, untuk kertas berwarna terang, atur opacity mejadi 50-65%, agar efek bayangan lebih lembut.

Less is more. Jangan terlalu berlebihan memberi bayangan, sehingga terasa beraaat. Sering2 saja trial dan error. :) Seperti ini.


Penting: kadang-kadang elemen digiscrap yang kita download SUDAH diberi bayangan oleh desainernya. Hati-hati dan bijak dalam memakainya agar tidak terlihat aneh dan tidak masuk akal. Selalu coba bayangkan ke mana arah bayangan akan jatuh jika disorot dari sebuah sudut tertentu.

Catatan: tutorial ini adalah cara paling mudah/sederhana untuk memberi kesan realistis pada digiscrap kita. Tentu, dengan cara yang  begitu mudah dan ga usah mikir seperti ini, hasilnya tidak akan sangat realistis sehingga begitu amat sangat mirip dengan scrapbook konvensional. *gaya bahasa boros*.

Hehehe. Oke, semoga berguna. Next time kita sambung dengan cara memberi bayangan yang sedikit lebih advanced.

Kimi’s First Solid Food

Wednesday, August 3rd, 2011

Kimi mulai makan semi cair hari ini. Semangkuk kecil bubur beras coklat yang encer sekali. Lumayan, dia habiskan cukup banyak, walau wajahnya seperti bertanya-tanya. Waktu yang saya pilih adalah makan siang, pukul 10.30.

Saya mengikuti apa yang direkomendasikan wholesomebabyfood, rasa tunggal tiap perkenalan makanan baru dan aturan tunggu 3-4 hari untuk membiasakan dan memastikan tidak alergi terhadap jenis makanan tertentu.

Dengan mulai makan solid ini, berarti Kimi juga sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan. Thank God! Kimi-lah satu-satunya bayi kami yang tidak kami belikan botol, selalu langsung dari sumbernya ;)

Kimi-eat.jpg

This little keepsake is for you to remember, dear baby boy!

Kisah Kimi

Thursday, February 10th, 2011

3 Februari 2011, tanggal merah menurut kalender Gregorian yang kita gunakan, karena hari ini adalah tahun baru Cina, alias Sincia, alias Imlek.

Kimi-born.jpg

Kimi memilih datang pada hari yang megah ini. Pilihan yang sangat tepat, Nak. Jalanan sepi karena libur, yang berarti Papa juga di rumah. Sebelumnya Mama sempat  kuatir, apakah Papa bisa menemani, mengingat jalanan Jakarta-Serpong sekarang macetnya sudah ga karu-karuan, padahal kamu bisa datang kapan saja.

Pilihan yang sangat tepat, karena hari itu hari yang damai sekali. Rumah tenang, karena kedua kakakmu sedang menginap di Tanjung Duren, kakak Chloe bahkan tidak mau ikut pulang ke Serpong setelah makan malam bersama di malam Sincia (sam sip ampu — malam tgl 30 — menurut adat Omamu), padahal tadinya dia tidak ada rencana ikut menginap.

Dari pukul 8 pagi, sudah terasa kontraksi yang mulai intens, tapi belum terlalu kerap. Jadi Mama pun mandi, bersiap-siap. Rasanya memang kamu akan datang tidak lama lagi. Hampir pukul 10, Papa Mama segera melaju ke RS Puri Indah. Sempat berpapasan di depan rumah dengan tetangga kita, Om Fendy dan Tante Sanny, mereka mendoakan yang terbaik buat kita.

Pukul 10.30 kita sampai di parkiran. Mama segera dibawa dengan kursi roda menuju lantai maternity. Perawat lantas mendorong Mama ke ruang bersalin, karena dia memperkirakan bukaan sudah besar. Dan betul, sudah bukaan 6-7.

Jadi, begitulah, sementara Papa sibuk mengurusi administrasi, kita berdua diurus oleh para perawat dan bidan yang tergopoh-gopoh mempersiapkan kelahiran ini. RS begitu sepi, karena ini hari libur, orang biasanya tidak sengaja memilih melahirkan tanggal segini. Maklum ya, Nak, di Indonesia, melahirkan dengan sectio itu lebih jadi pilihan, mungkin karena predicted, jadi lebih mudah untuk diantisipasi.

Kontraksinya bertambah sakit. Rasanya waktu membeku. Mama hanya bisa berpegangan di sisi ranjang tiap rasa sakit datang mendera. Pilihan waktumu benar-benar baik, karena Papa & Mama sudah cukup beristirahat semalam, dan kali ini Mama masih bisa makan- disuapi Papa, tidak seperti waktu kakakmu Chloe, Mama lemas tidak bertenaga karena tidak bisa makan apa pun.

Bukaan berjalan jauh lebih cepat daripada kelahiran Chloe. Cepat saja kita sudah sampai ke bukaan 9.

Nah, dokter Handi Suryana sudah datang. Beliau baik sekali ya, rela meninggalkan perayaan tahun baru ini untuk menjemputmu keluar. Kurang lebih dua kali mengejan, kamu pun keluar, lahir dengan selamat. Semuanya selamat, walaupun dokter sudah mengingatkan resiko melahirkan normal untuk kedua kalinya setelah mengalami kelahiran by sectio waktu kakakmu Joel dulu.

Mama ingat mendengar tangisanmu yang sangat kencang, keras sekali membelah kesunyian pagi itu, tepat pukul 11.42 wib. Dr Jeanne-Roos Tikoalu mengurusmu sebentar sebelum akhirnya menyerahkanmu ke Mama untuk IMD. Kamu akan belajar menyusu.

Bayi kecil di dadaku, dengan muka bengkak… Kamu yang selama sembilan bulan ini betah di dalam perutku, membuat kami, Papa Mamamu, bertanya-tanya, kapan kamu memutuskan akan keluar.

Semua orang yang Mama kenal berkata, tanggal lahirmu bagus sekali, pas Imlek, karena Mama mendapat angpao yang begitu istimewa, seorang bayi laki-laki yang akan segera meramaikan rumah kita.

Selamat datang, Joachim.

 

 

Kimi, Our Little Racer

Thursday, February 3rd, 2011

kimi-crib.jpg

We welcome Joachim Clement Adiwijaya, our dear baby boy. A heaven sent angel, a beautiful gift from heaven, to love with all our hearts, to hold in our arms, to be taught in His ways.

Welcome, son. Welcome to our family.