Wed, 22 Feb 2012; 08:04:14 PM

Archive for the ‘as a mom’ Category

Dokter Anak Ga Harus yang Laris

Friday, October 28th, 2011

Pengalaman beberapa kali mengantar anak berobat ke dokter, saya cenderung mencari dokter yang tidak terlalu ramai peminatnya.

Saya heran dengan orangtua yang sabar dan rela menunggu dokter berjam-jam untuk Dokter anak Tidak masuk akal menurut saya, jika kita harus mengantri berjam-jam untuk mengobati anaknya bahkan sekedar imunisasi. Bukan apa-apa, kalau anak sedang sakit dan sakit itu membuatnya tidak nyaman, tahu sendiri kan seperti apa rewelnya. Apalagi imunisasi! Rasanya tidak perlu lah antri berjam-jam supaya bisa divaksin oleh dokter beken. Di posyandu aja imunisasi dasar diberikan gratis, dan tidak mungkinlah dokter-dokter laris itu mau praktek di Posyandu yang ga ada duitnya.

Hari Minggu lalu, sekitar pukul 8 malam, di sebuah klinik ibu & anak dekat rumah kami….

Chloe demam (di atas 38,3 C maksudnya), rewel sekali, tidak mau makan, sejak kemarin pagi. Maka, kami membawanya ke klinik dekat rumah kami dengan maksud, jika demam masih berlanjut sampai hari ke-3, dan butuh diobati, sudah ada obatnya… maklum, hubby Pampi kalo hari kerja pulangnya cukup malam dan biasanya sudah dibikin sangat kelelahan oleh macetnya Jakarta – Tangerang.

pediatric.jpg Dokter yang praktek hari ini (Minggu, lho) adalah salah seorang dokter anak yang sudah terkenal laris banget di kalangan ortu di daerah sini. Saya bukan jenis ortu yang mengejar dokter laris, soalnya yang namanya dokter laris pasti ngantri berat, dan konsultasi biasanya terburu-buru.

Benar saja. Kami dapat no. urut 17, berarti sekitar 2 jam lagi-lah. Bayangkan jika membawa anak sakit yang sedang rewel, betapa tidak menyenangkannya! Belum lagi kami harus bawa bayi Kimi, kan? Karena rumah kami dekat, kami bisa tunggu di rumah saja. Syukurlah.

1 jam 45 menit kemudian, kami datang lagi. Sudah no. 15. ;) Good!

Ketika sudah sampai giliran kami, kejengkelan saya dimulai. Joel dan Chloe sedang asik bermain di tempat main yang mereka sediakan, dan Pampi sedang memanggil mereka. Perawat berkomentar, “Cepetan, Bu. Ada yang sudah nunggu lama. Dokter juga mau pulang.”

Excuse, me? Ini klinik anak-anak, kan? Ga tau kalo anak-anak lagi main itu ga gampang disuruh langsung berhenti?

Di dalam, sang dokter juga tidak lebih ramah. Chloe akhirnya masuk (saya sudah di dalam bersama Kimi), dokter bertanya tentang gejala-gejala, lalu menyuruhnya berbaring di ranjang. Setelah itu dia langsung menulis resep.

Saya mencoba menjajal seberapa informatif dokter ini, “Dok, anak kalau sakit kenapa ya, matanya sayu?”

Jawabannya sungguh melecehkan intelejensi, “Yang namanya sakit kan pasti sayu.”

Saya kejar, “Hubungannya?”

Pak Dokter agak terperanjat, sepertinya tidak mengira saya akan mengejarnya, “Orang sakit kan tidurnya ga pulas, lemes. Kita kalo lemes juga matanya sayu.”

Dia pasti akhirnya sadar kalo bukan jawaban seperti itu yang saya tunggu, ketika menambahkan sesuatu kira-kira seperti ini, “Kalau sakit kantung air mata bengkak.” Sebenarnya saya tidak terlalu menyimak apa yang dia katakan, saya cuma ingin melihat reaksi dokter laris ini.

Maka, lalu Chloe diperiksa. Tidak ada kata-kata manis membujuk untuk anak tiga tahunku. Bahkan, Joel yang keluar masuk (dan memang cukup mengganggu), ditegur oleh perawat, “Kalau nakal nanti disuntik!” WAKS.

Tentu saja saya jadi harus menenangkan Chloe yang sedang sangat tidak kooperatif.

Akhirnya, kami kembali ke meja. Dokter menulis resep, antibiotik, obat racik, dan obat alergi, karena beliau berpendapat alergi adalah 20% penyebab sakit Chloe. Menurut Pak Dokter, tenggorokan Chloe radang, ada infeksi.

“Harus antiobiotik, Dok?”

“Terserah, Ibu. Kalau ada apa-apa dengan anak ibu, pneumonia, saya tidak mau tanggung.”

Yeeee…. Ngancem. Dokter anak, kok, kayak gitu si kelakuannya? Hilang sudah respek saya pada dirinya, yang konon adalah salah satu pemegang saham klinik ibu dan anak ini.

Keesokan malamnya, kami ke RS dekat rumah. RS ini saya kenal ramah anak. Dan benar saja.

Perawat ramah menyapa, Pak Dokter pun tak kalah bersahabatnya. Chloe diajak ngobrol dulu, coba diambil dulu hatinya. Lalu diperiksa, beberapa kali Dokter membujuk Chloe yang sedang heboh menangis. *beda banget dengan kejadian semalam* Di RS ramah anak ini, anak-anak diperlakukan dengan baik, dijaga betul supaya tidak trauma. Semoga terus begitu.

“Tidak saya kasih antibiotik, ya. Tidak ada infeksi,” kata sang pediatris.

WHAT? Lalu semalam itu apa? Dokter di klinik itu ngarang? Saya berjanji dalam hati ga akan balik lagi konsul ke dia, kecuali terpaksa. :p

“Ga ada, Dok?”

Dokter menggeleng. Lalu menulis beberapa resep. Ada puyer. Saya selalu curiga dengan puyer. Oh, ternyata isinya cuma satu, itu pun dalam rangka mengurangi bobot obat agar lebih tepat untuk ukuran anak sebesar Chloe.

Begitu.

Saya selalu heran dengan dokter anak yang tidak suka anak-anak. Buat apa, Dok. Lebih baik jadi dokter kosmetik atau bedah plastik aja, kali? Duit banyak, pasien ga akan meronta-ronta cengeng, ngompol, diare, atau pun beringus.

Sigh. Udahlah. Semoga ada dokter yang baca.

Cangkir Pecah

Saturday, October 22nd, 2011

Beberapa malam lalu Chloe memecahkan cangkir keramik putih yang sering saya digunakan untuk minum teh.

Penyebabnya adalah, Chloe yang sedang asik dengan bukunya, mengira saya sudah memegang gelas itu, saat dilepaskan olehnya.

“Prang!”

Dia jelas terkejut. Ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan.

“Sorry, Ma..” cepat dia bereaksi.

Saya pandangi wajah si cantik anak perempuan saya satu-satunya ini. Dia tahu dia salah. Cukup sudah. Tidak perlu dihakimi, dimarahai apalagi dibentak.

“Yuk, kita bereskan. Chloe yang lap, ya. Mama yang pungutin pecahannya.”

Wajahnya langsung cerah. Si kecil tiga tahunku segera mengambil lap di depan pintu kamarnya. Setelah memastikan tidak ada lagi pecahan cangkir, saya ajak dia mengelapi tumpahan air di lantai kamarnya.

Malam itu, Chloe tidur pulas di kamarnya yang bekas tumpahan air di lantainya telah dia keringkan. Saya lega, karena bisa bereaksi dengan tepat. Cukup cangkirnya saja yang pecah, jangan hati anak saya.

Number Rhymes

Tuesday, October 4th, 2011

These rhymes are excellent to teach the formation of the numbers.

1 Straight down and then you’re done. That’s the way to make a one!

2 Around and back on the railroad track. Two! Two! Two!

3 Around the tree, around the tree. That’s the way to make a three!

4 Down and over and down some more. That’s the way to make a four!

5 Put on a hat. Then take a dive. Make a big round tummy. Now that’s a five! —or—- A little bit down. Circle the drive Put on a hat. That makes a five!

6 Make a loop and then a hoop! Six!

7 Across the sky and down from heaven. That’s the way to make a seven!

8 Make an ‘S’ but do not wait. Go back up and close the gate.

9 Make a hoop and then a line. That’s the way to make a nine!

0 Around, around, around you go. That’s the way to make zero!

Author Unknown

Kimi’s First Solid Food

Wednesday, August 3rd, 2011

Kimi mulai makan semi cair hari ini. Semangkuk kecil bubur beras coklat yang encer sekali. Lumayan, dia habiskan cukup banyak, walau wajahnya seperti bertanya-tanya. Waktu yang saya pilih adalah makan siang, pukul 10.30.

Saya mengikuti apa yang direkomendasikan wholesomebabyfood, rasa tunggal tiap perkenalan makanan baru dan aturan tunggu 3-4 hari untuk membiasakan dan memastikan tidak alergi terhadap jenis makanan tertentu.

Dengan mulai makan solid ini, berarti Kimi juga sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan. Thank God! Kimi-lah satu-satunya bayi kami yang tidak kami belikan botol, selalu langsung dari sumbernya ;)

Kimi-eat.jpg

This little keepsake is for you to remember, dear baby boy!

Kisah Kimi

Thursday, February 10th, 2011

3 Februari 2011, tanggal merah menurut kalender Gregorian yang kita gunakan, karena hari ini adalah tahun baru Cina, alias Sincia, alias Imlek.

Kimi-born.jpg

Kimi memilih datang pada hari yang megah ini. Pilihan yang sangat tepat, Nak. Jalanan sepi karena libur, yang berarti Papa juga di rumah. Sebelumnya Mama sempat  kuatir, apakah Papa bisa menemani, mengingat jalanan Jakarta-Serpong sekarang macetnya sudah ga karu-karuan, padahal kamu bisa datang kapan saja.

Pilihan yang sangat tepat, karena hari itu hari yang damai sekali. Rumah tenang, karena kedua kakakmu sedang menginap di Tanjung Duren, kakak Chloe bahkan tidak mau ikut pulang ke Serpong setelah makan malam bersama di malam Sincia (sam sip ampu — malam tgl 30 — menurut adat Omamu), padahal tadinya dia tidak ada rencana ikut menginap.

Dari pukul 8 pagi, sudah terasa kontraksi yang mulai intens, tapi belum terlalu kerap. Jadi Mama pun mandi, bersiap-siap. Rasanya memang kamu akan datang tidak lama lagi. Hampir pukul 10, Papa Mama segera melaju ke RS Puri Indah. Sempat berpapasan di depan rumah dengan tetangga kita, Om Fendy dan Tante Sanny, mereka mendoakan yang terbaik buat kita.

Pukul 10.30 kita sampai di parkiran. Mama segera dibawa dengan kursi roda menuju lantai maternity. Perawat lantas mendorong Mama ke ruang bersalin, karena dia memperkirakan bukaan sudah besar. Dan betul, sudah bukaan 6-7.

Jadi, begitulah, sementara Papa sibuk mengurusi administrasi, kita berdua diurus oleh para perawat dan bidan yang tergopoh-gopoh mempersiapkan kelahiran ini. RS begitu sepi, karena ini hari libur, orang biasanya tidak sengaja memilih melahirkan tanggal segini. Maklum ya, Nak, di Indonesia, melahirkan dengan sectio itu lebih jadi pilihan, mungkin karena predicted, jadi lebih mudah untuk diantisipasi.

Kontraksinya bertambah sakit. Rasanya waktu membeku. Mama hanya bisa berpegangan di sisi ranjang tiap rasa sakit datang mendera. Pilihan waktumu benar-benar baik, karena Papa & Mama sudah cukup beristirahat semalam, dan kali ini Mama masih bisa makan- disuapi Papa, tidak seperti waktu kakakmu Chloe, Mama lemas tidak bertenaga karena tidak bisa makan apa pun.

Bukaan berjalan jauh lebih cepat daripada kelahiran Chloe. Cepat saja kita sudah sampai ke bukaan 9.

Nah, dokter Handi Suryana sudah datang. Beliau baik sekali ya, rela meninggalkan perayaan tahun baru ini untuk menjemputmu keluar. Kurang lebih dua kali mengejan, kamu pun keluar, lahir dengan selamat. Semuanya selamat, walaupun dokter sudah mengingatkan resiko melahirkan normal untuk kedua kalinya setelah mengalami kelahiran by sectio waktu kakakmu Joel dulu.

Mama ingat mendengar tangisanmu yang sangat kencang, keras sekali membelah kesunyian pagi itu, tepat pukul 11.42 wib. Dr Jeanne-Roos Tikoalu mengurusmu sebentar sebelum akhirnya menyerahkanmu ke Mama untuk IMD. Kamu akan belajar menyusu.

Bayi kecil di dadaku, dengan muka bengkak… Kamu yang selama sembilan bulan ini betah di dalam perutku, membuat kami, Papa Mamamu, bertanya-tanya, kapan kamu memutuskan akan keluar.

Semua orang yang Mama kenal berkata, tanggal lahirmu bagus sekali, pas Imlek, karena Mama mendapat angpao yang begitu istimewa, seorang bayi laki-laki yang akan segera meramaikan rumah kita.

Selamat datang, Joachim.

 

 

Kimi, Our Little Racer

Thursday, February 3rd, 2011

kimi-crib.jpg

We welcome Joachim Clement Adiwijaya, our dear baby boy. A heaven sent angel, a beautiful gift from heaven, to love with all our hearts, to hold in our arms, to be taught in His ways.

Welcome, son. Welcome to our family.

McRuffy Press

Wednesday, May 19th, 2010

Mungkin ada yang pengen tahu.

Setelah MFW First Grade selesai nanti, saya akan pindah sejenak ke model textbook (tapi harus yang fun) dan akan saya kombinasikan dengan Heart of Dakota yang begitu gentle dan uhmm.. rileks.

Saya tidak akan buru-buru ambil kurikulum Second Grade. Saya ingin Joel belajar dengan cara yang lain selain yang ditawarkan MFW. Bahkan science saya pilihkan yang first grade juga. Menurut saya, science itu sifatnya umum, ya seperti pengetahuan umum gitu, susah mau distandarkan. Jadi buat saya Joel tidak sedang downgrade, tapi sedang belajar dengan cara yang lain.

McRuffy jadi pilihan saya. Sempat batal karena biaya pengirimannya dari US-Indonesia mencapai Rp 1 juta. Untung ketemu dengan forwarder yang siap membantu membelikan dan mengantar buku-buku ini ke rumah. Kebayang kalo saya harus menebusnya lagi di kantor pos. Box-nya berat banget!

Kesan pertama saya, puas. Harganya sesuai dengan yang saya dapat. Untuk 3 kurikulum di bawah ini saya mengeluarkan uang Rp 3.050.000. Itu sudah termasuk ongkos kirim. Jika dibagi 12 bulan, berarti pengeluaran saya adalah Rp 250.000. Cukup terjangkau kan? Saya bahkan tidak perlu keluar dari pekarangan rumah untuk mengambil kurikulum ini.

Inilah pertama kali kami punya kurikulum berwarna. Walaupun gambarnya sederhana (digambar sendiri oleh penyusun kurikulum ini), buku-bukunya tampil rapi, kertasnya bagus, covernya sudah dilaminating, saya juga suka plastic wire-nya yang simpel.

Saya juga suka karena McRuffy berbaik hati melaminasikan board game, beberapa chart, juga item-item lain. Saya juga suka dengan lab kit untuk sciencenya.. bahkan kelereng aja dimasukkan ke dalamnya. Saya senang, karena sebagian besar kerepotan saya bisa dieliminasi. Mungkin karena Brian Davis sang penyusun, adalah seorang guru sekolah. Dia nampaknya mengerti betul kerepotan seorang pengajar.

Berikut detail kurikulum yang saya beli. Saya belum bisa kasih review tentang isi, karena baru baca yang Science. Sejauh ini manual pengajar cukup mudah dimengerti, penjabaran cukup detail, jadi ortu tidak perlu kuatir harus ngomong apa dengan anak. Hehehee.

Gambar-gambar di bawah ini bisa diklik ya.

First Grade Language Arts

Ini adalah pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 1 SD, sudah termasuk Reading & Spelling. Belum termasuk handwriting.

Isi kurikulumnya adalah:
2 buku manual untuk ortu/guru
2 workbook, satu untuk reading, satu untuk spelling
34 buku bacaan sederhana (reader)
1 pack additional resource – isinya macem-macem, ada boardgame, copymaster, chart, dll. Sudah dilaminating dengan baik oleh mereka.

Linknya di sini: http://mcruffy.com/1P.htm

mcRuffy-LA-1stgrade

Second Grade Math

Enaknya homeschool, kita bisa campur-campur kurikulum tanpa ada patokan level, usia, dll.

Joel saya belikan yang second grade, karena memang setelah dilihat topik yang dicakup di first grade sudah dia kuasai.

Isi paket:
1 buku manual pengajar
1 workbook
1 Resource Pack yang isinya permainan2 sesuai topik yang dipelajari
1 Response Book

2 bungkus manipulatives kit

mcRuffy-math-2ndgrade

Linknya di sini: http://mcruffy.com/2M.htm

1st Science

mcRuffy-science-1stgrade

Ini science untuk kelas 1 SD. Di dalamnya sudah tercakup empat bentuk science,
* Physical Science
* Earth Science

* Life Science

* Scientific Inquiry

Paketnya terdiri dari:
1 manual pengajar
1 workbook
1 resource pack
1 lab kit

Linknya: http://mcruffy.com/1Sc.htm

When God Spoke to a Kid’s Heart

Monday, May 3rd, 2010

Saat Teduh secara teratur benar-benar powerful. Saya harus malu sama Joel.

Tanpa sedikit pun membantah, selama lebih dari dua minggu terakhir ini, Joel rutin ber-Saat Teduh dengan bahan yang diberikan dari gereja anak di tempat kami. Tadinya Joel hanya berdoa saja setelah bangun pagi, itu pun saya tidak tahu apakah dia benar-benar berdoa. Tapi saya percaya padanya. :)

Pernah, suatu malam kami agak kelelahan karena acara sepanjang hari, dan tidur sudah agak malam, kami ‘lupa’ menemaninya Saat Teduh. Sampai hari ini kami masih melakukannya di malam hari, karena itulah saat Papanya bisa menemaninya, saya memang ingin Pampi yang pegang peranan ini, jadi imam buat anaknya.

Back to Joel. Apa yang terjadi? Tidak lama setelah kami masuk kamar, terdengar pintu kamar Joel dibuka, dan dia segera membuka pintu kamar kami. Joel meminta Papanya menemani dia Saat Teduh, waktu itu sudah hampir pukul 11 malam.

See? Anak-anaklah yang merasakan manfaatnya. Jika selama ini kita berpikir, seberapa sih yang bisa dipahami seorang anak berumur 6 tahun tentang Tuhan, tentang isi Firman Tuhan, dll — kini saya mengerti, walaupun mungkin dia tidak bisa mengutarakannya, sesuatu telah menyentuh hatinya, berbicara padanya, dan mengubah hidupnya.

Minggu pertama, Joel membaca Firman tentang ketaatan dengan role model Abraham. Minggu kedua, bacaannya tentang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Minggu ketiga tentang mengasihi sesama.

Banyak perubahan terjadi dan itu sangat menyentuh hati dan membukakan mata saya bahwa Tuhan mampu mengubah hati yang paling keras sekali pun, Firman Tuhan punya kuasa dahsyat mengubah hati seorang anak yang sebegitu pemalunya.

Joel sekarang lebih bisa berinteraksi dengan orang lain, bisa menanyakan pertanyaan seperti ,”Auntie, kapan ke sini lagi?”. Pertanyaan langka dari mulut seorang Joel. Sosialasi yang saya kuatirkan, tidak perlu lagi jadi beban pikiran saya.

Juga, hari Minggu yang lalu Joel membawa pulang sebuah sticker dari sekolah minggu. Walaupun sudah didesak-desak, dia bilang dia tidak mau cerita dari mana asalnya sticker itu. Satu-satunya clue yang dia berikan adalah, tidak semua anak mendapat sticker itu. Itu berarti dia melakukan sesuatu, bukan? Tapi dia tidak mau cerita juga.

Sampai hari ini, saya iseng tanya, “Kamu dapat sticker karena nyanyi di depan?” Bukan! katanya. “Tidak mau cerita.” Tiba-tiba saya dapat ide, “Kalau begitu pasti karena ayat hafalan.” Dia langsung mengiyakan. Wow! Hati saya bersorak kegirangan. Anak ini biasanya malu bahkan terkesan tak acuh pada kegiatan di sekolah minggu-nya. “Ditanya siapa yang mau maju sebutin ayat hafalan,” tambahnya lagi. Ini sih dobel wow! Berita hebat! Saya harus menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa atau terlalu excited karena Joel biasanya jadi risih dan malu.

Malam ini, ketika saya menemaninya Saat Teduh karena Papanya belum pulang, kami membaca tentang taat kepada orangtua sebagai implikasi dari mengasihi orangtua, Markus 19:19. Anak-anak diajak merenungkan betapa pentingnya orangtua buat mereka. Bahwa salah satu bentuk mengasihi orangtua (yang juga sesamanya) adalah dengan menaatinya. Juga anak-anak diajak minta maaf sama orangtua jika selama ini pernah melawan.

“Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu melawan ortu? Ayo minta maaf sama ortumu, ” begitu tulisan di bahan Saat Teduhnya.

“Nah, Joel mau minta maaf, ga?” tanya saya ga terlalu yakin.

“Mau. Gimana caranya?”

Maka saya ajari. Lalu dia mengulanginya ke saya. Saya sangat terharu. Saya peluk dia sambil berkata, “Mama maafkan”. Hati Joel lembut sekali, begitu mudah diajar. Biasanya Joel tidak mau melakukan hal-hal ‘memalukan’ seperti ini.

Kemudian saya minta dia melakukannya ke Papanya. Setelah ‘mengusir’ saya keluar — karena malu — dia minta maaf sama Papanya. Walau saya diultimatum untuk tidak mendengar, saya pasang kuping juga di pintu kamarnya, hati saya seperti disiram kesegaran luar biasa.

Sepertinya materi yang dia dapat selama ini dari kurikulum First Grade My Father’s World juga sedikit banyak telah menaburkan sesuatu di dalam hatinya. Ketaatan 100%, kesediaan melakukan perintah Tuhan, kehebatan dan mujizat-mujizat yang Dia lakukan, telah membuatnya lebih ‘aware’ tentang siapakah Tuhan yang kami, orangtuanya, percaya. Saya sungguh berharap kami berdua bisa menuntun Joel terus mengenal seorang Pribadi yang sungguh-sungguh mengasihi dia dan menerima Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya. Ini baru awal.

Many thanks to you, my God. I’ve witnessed the power of Your Word. Please God, do continue to work in us to make us what You want us to be.

Jujur Ber-Facebook

Tuesday, April 6th, 2010

Ketika demam Facebook pertama melanda keluarga kami, Joe juga punya akun Facebook. Saya yang bikinkan, tahun 2009.

Sebenarnya waktu itu sudah ada rasa tidak nyaman. Tapi tetap saya bikinkan, karena saya tidak mau dia membaca posting-posting dari teman-teman yang tidak appropriate untuk umurnya. Juga, saya ingin dia lebih bangga karena tiap dia main game, skornya tercatat atas nama dia. Ketika itu, Joel rutin main GeoChallenge.

Perasaan saya yang agak terganggu ini karena terus menerus dibiarkan, lama-lama ga terlalu berasa lagi, walau tetap saja ada rasa ga nyaman mengganjal di hati.

Apalagi kemudian, terlihat Joel menikmati akun facebook atas namanya sendiri. Dia bisa main beberapa game kesukaannya, dari GeoChallenge sampai Pet Society dan sejenisnya. Joel hanya menggunakannya untuk main game dan (kadang) melihat komen foto orang-orang yang ada dalam networknya.

Saya biarkan terus, walau kadang-kadang saya bingung juga saat ada yang add dia sebagai teman, padahal orang itu (saya ga gitu kenal) jauh lebih tua dari dia, dan tentu ada potensi posting-posting yang tidak cocok untuk anak seusia dia mampir di wall-nya.

Sampai akhirnya tahun 2010 ini, karena perasaan saya tak kunjung tenang, terus terusik, ditambah ada sedikit sentilan saat khotbah hari Minggu, ditambah lagi perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah seperti kakak sendir, saya makin yakin untuk segera menutup akun facebook Joel.

Sebelumnya saya diskusikan dengan Joel,

“Joel, facebook Joel, Mama tutup ya.”

Respon dia, pertama, “KENAPAAAA???!!!”

“Harusnya facebook itu untuk orang yang sudah berumur 17 tahun ke atas. Joel belum. Berarti kita bohong.”

Joel langsung menangis protes, menjerit, “GA MAU!!!!” Hati saya pedih.

“Ya, Mama yang salah. Karena Mama tahu harusnya tidak boleh, tapi Mama tetap bikinkan buat kamu. Mama mau taat sama Tuhan. Kata Tuhan kita tidak boleh berdusta. Kamu ingat ini perintah Allah nomor berapa?”

Joel masih menangis, tapi kemudian menjawab sambil menangis, “Nomor 9…. ”

“Tapi! Kan, Mama ga tau waktu itu,” tambah Joel lagi.

Oh, betapa baiknya anakku menilaiku.

“Enggak, Joel. Mama sebenarnya sudah tahu. Mama bilang kamu lahir tahun 1992. Mama bohong. Maaf, ya.”

Sepertinya Joel mulai mengerti, karena tangisnya mulai mereda.

“Kita tutup ya, Joel?”

Lama Joel baru meresponi. “Iya.”

Oh.. hati saya lega. Plong.

Beberapa hari kemudian, akun Facebook Joel tidak sekedar dinonaktifkan, tapi dihapus untuk selamanya.

Makasih ya Joel, sudah membantu Mama jadi orang yang lebih jujur. Makasih Ko Joel Young buat sentilannya pas khotbah Minggu, makasih Ci Stasia yang membuatku tambah yakin untuk melakukan ini.

Biarlah nanti kalau Joel sudah berumur 17 tahun, dia bikin sendiri akun-akun pertemanannya sendiri

Acicu

Saturday, January 30th, 2010

Kadang-kadang saya bertanya pada Chloe, Tuhan Yesus ada di mana, dia akan menaruh tangannya di dada dan berkata: aci (hati).

Namun, sudah beberapa waktu ini dia akan menjawab: acicu. Cukup lama saya baru ngeh maksud dia adalah: hatiku. Dari mana dia denger kata ini, ya? Kemungkinan dari beberapa lagu yang sering kami nyanyikan bersama, seperti lagu Bulan Sabit di Awan — betapa senang hatiku rasanya menjadi nahkoda di sana — atau lagu Balonku — meletus balon hijau DOR hatiku sangat kacau. (more…)