<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blognya Devi</title>
	<atom:link href="http://devi.chosenlight.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://devi.chosenlight.com</link>
	<description>Just another Chosenlight site</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Oct 2011 16:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dokter Anak Ga Harus yang Laris</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/10/28/dokter-anak-ga-harus-yang-laris/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/10/28/dokter-anak-ga-harus-yang-laris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 16:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[pasien]]></category>
		<category><![CDATA[pediatrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman beberapa kali mengantar anak berobat ke dokter, saya cenderung mencari dokter yang tidak terlalu ramai peminatnya. Saya heran dengan orangtua yang sabar dan rela menunggu dokter berjam-jam untuk Dokter anak Tidak masuk akal menurut saya, jika kita harus mengantri berjam-jam untuk mengobati anaknya bahkan sekedar imunisasi. Bukan apa-apa, kalau anak sedang sakit dan sakit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalaman beberapa kali mengantar anak berobat ke dokter, saya cenderung mencari dokter yang tidak terlalu ramai peminatnya.</p>
<p>Saya heran dengan orangtua yang sabar dan rela menunggu dokter berjam-jam untuk Dokter anak Tidak masuk akal menurut saya, jika kita harus mengantri berjam-jam untuk mengobati anaknya bahkan sekedar imunisasi. Bukan apa-apa, kalau anak sedang sakit dan sakit itu membuatnya tidak nyaman, tahu sendiri kan seperti apa rewelnya. Apalagi imunisasi! Rasanya tidak perlu lah antri berjam-jam supaya bisa divaksin oleh dokter beken. Di posyandu aja imunisasi dasar diberikan gratis, dan tidak mungkinlah dokter-dokter laris itu mau praktek di Posyandu yang <em>ga ada duitnya</em>.</p>
<p>Hari Minggu lalu, sekitar pukul 8 malam, di sebuah klinik ibu &amp; anak dekat rumah kami&#8230;.</p>
<p>Chloe demam (di atas 38,3 C maksudnya), rewel sekali, tidak mau makan, sejak kemarin pagi. Maka, kami membawanya ke klinik dekat rumah kami dengan maksud, jika demam masih berlanjut sampai hari ke-3, dan butuh diobati, sudah ada obatnya&#8230; maklum, hubby Pampi kalo hari kerja pulangnya cukup malam dan biasanya sudah dibikin sangat kelelahan oleh macetnya Jakarta &#8211; Tangerang.</p>
<p><a title="pediatric.jpg" href="http://lh4.ggpht.com/-oOJlA-70p30/TqTLNjHd0aI/AAAAAAAAAK4/p5HCqzf7S_o/pediatric.jpg"><img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/-oOJlA-70p30/TqTLNjHd0aI/AAAAAAAAAK4/p5HCqzf7S_o/s150-c/pediatric.jpg" alt="pediatric.jpg" width="150" height="150" /></a> Dokter yang praktek hari ini (Minggu, lho) adalah salah seorang dokter anak yang sudah terkenal laris banget di kalangan ortu di daerah sini. Saya bukan jenis ortu yang mengejar dokter laris, soalnya yang namanya dokter laris pasti ngantri berat, dan konsultasi biasanya terburu-buru.</p>
<p>Benar saja. Kami dapat no. urut 17, berarti sekitar 2 jam lagi-lah. Bayangkan jika membawa anak sakit yang sedang rewel, betapa tidak menyenangkannya! Belum lagi kami harus bawa bayi Kimi, kan? Karena rumah kami dekat, kami bisa tunggu di rumah saja. Syukurlah.</p>
<p>1 jam 45 menit kemudian, kami datang lagi. Sudah no. 15. <img src='http://devi.chosenlight.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Good!</p>
<p>Ketika sudah sampai giliran kami, kejengkelan saya dimulai. Joel dan Chloe sedang asik bermain di tempat main yang mereka sediakan, dan Pampi sedang memanggil mereka. Perawat berkomentar, &#8220;Cepetan, Bu. Ada yang sudah nunggu lama. Dokter juga mau pulang.&#8221;</p>
<p><em>Excuse, me?</em> Ini klinik anak-anak, kan? Ga tau kalo anak-anak lagi main itu ga gampang disuruh langsung berhenti?</p>
<p>Di dalam, sang dokter juga tidak lebih ramah. Chloe akhirnya masuk (saya sudah di dalam bersama Kimi), dokter bertanya tentang gejala-gejala, lalu menyuruhnya berbaring di ranjang. Setelah itu dia langsung menulis resep.</p>
<p>Saya mencoba menjajal seberapa informatif dokter ini, &#8220;Dok, anak kalau sakit kenapa ya, matanya sayu?&#8221;</p>
<p>Jawabannya sungguh melecehkan intelejensi, &#8220;Yang namanya sakit kan pasti sayu.&#8221;</p>
<p>Saya kejar, &#8220;Hubungannya?&#8221;</p>
<p>Pak Dokter agak terperanjat, sepertinya tidak mengira saya akan mengejarnya, &#8220;Orang sakit kan tidurnya ga pulas, <em>lemes</em>. Kita kalo <em>lemes</em> juga matanya sayu.&#8221;</p>
<p>Dia pasti akhirnya sadar kalo bukan jawaban seperti itu yang saya tunggu, ketika menambahkan sesuatu kira-kira seperti ini, &#8220;Kalau sakit kantung air mata bengkak.&#8221; Sebenarnya saya tidak terlalu menyimak apa yang dia katakan, saya cuma ingin melihat reaksi dokter laris ini.</p>
<p>Maka, lalu Chloe diperiksa. Tidak ada kata-kata manis membujuk untuk anak tiga tahunku. Bahkan, Joel yang keluar masuk (dan memang cukup mengganggu), ditegur oleh perawat, &#8220;Kalau nakal nanti disuntik!&#8221; WAKS.</p>
<p>Tentu saja saya jadi harus menenangkan Chloe yang sedang sangat tidak kooperatif.</p>
<p>Akhirnya, kami kembali ke meja. Dokter menulis resep, antibiotik, obat racik, dan obat alergi, karena beliau berpendapat alergi adalah 20% penyebab sakit Chloe. Menurut Pak Dokter, tenggorokan Chloe radang, ada infeksi.</p>
<p>&#8220;Harus antiobiotik, Dok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Terserah, Ibu. Kalau ada apa-apa dengan anak ibu, pneumonia, saya tidak mau tanggung.&#8221;</p>
<p>Yeeee&#8230;. Ngancem. Dokter anak, <em>kok,</em> kayak gitu si kelakuannya? Hilang sudah respek saya pada dirinya, yang konon adalah salah satu pemegang saham klinik ibu dan anak ini.</p>
<p>Keesokan malamnya, kami ke RS dekat rumah. RS ini saya kenal ramah anak. Dan benar saja.</p>
<p>Perawat ramah menyapa, Pak Dokter pun tak kalah bersahabatnya. Chloe diajak ngobrol dulu, coba diambil dulu hatinya. Lalu diperiksa, beberapa kali Dokter membujuk Chloe yang sedang heboh menangis. *beda banget dengan kejadian semalam* Di RS ramah anak ini, anak-anak diperlakukan dengan baik, dijaga betul supaya tidak trauma. Semoga terus begitu.</p>
<p>&#8220;Tidak saya kasih antibiotik, ya. Tidak ada infeksi,&#8221; kata sang pediatris.</p>
<p>WHAT? Lalu semalam itu apa? Dokter di klinik itu ngarang? Saya berjanji dalam hati ga akan balik lagi konsul ke dia, kecuali terpaksa. :p</p>
<p>&#8220;Ga ada, Dok?&#8221;</p>
<p>Dokter menggeleng. Lalu menulis beberapa resep. Ada puyer. Saya selalu curiga dengan puyer. Oh, ternyata isinya cuma satu, itu pun dalam rangka mengurangi bobot obat agar lebih tepat untuk ukuran anak sebesar Chloe.</p>
<p>Begitu.</p>
<p>Saya selalu heran dengan dokter anak yang tidak suka anak-anak. Buat apa, Dok. Lebih baik jadi dokter kosmetik atau bedah plastik aja, kali? Duit banyak, pasien ga akan meronta-ronta cengeng, ngompol, diare, atau pun beringus.</p>
<p>Sigh. Udahlah. Semoga ada dokter yang baca.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/10/28/dokter-anak-ga-harus-yang-laris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cangkir Pecah</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/10/22/cangkir-pecah/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/10/22/cangkir-pecah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 09:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[child]]></category>
		<category><![CDATA[Chloe]]></category>
		<category><![CDATA[parenthood]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa malam lalu Chloe memecahkan cangkir keramik putih yang sering saya digunakan untuk minum teh. Penyebabnya adalah, Chloe yang sedang asik dengan bukunya, mengira saya sudah memegang gelas itu, saat dilepaskan olehnya. &#8220;Prang!&#8221; Dia jelas terkejut. Ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan. &#8220;Sorry, Ma..&#8221; cepat dia bereaksi. Saya pandangi wajah si cantik anak perempuan saya satu-satunya ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="IMG_2122.jpg" href="http://lh6.ggpht.com/-2w53MhBXcuM/TqKD7N4TMzI/AAAAAAAAAKk/8aLqcTVSq5Q/IMG_2122.jpg"><img class="aligncenter" title="Cangkir Pecah" src="http://lh6.ggpht.com/-2w53MhBXcuM/TqKD7N4TMzI/AAAAAAAAAKk/8aLqcTVSq5Q/h190/IMG_2122.jpg" alt="" width="142" height="190" /></a></p>
<p>Beberapa malam lalu Chloe memecahkan cangkir keramik putih yang sering saya digunakan untuk minum teh.</p>
<p>Penyebabnya adalah, Chloe yang sedang asik dengan bukunya, mengira saya sudah memegang gelas itu, saat dilepaskan olehnya.</p>
<p>&#8220;Prang!&#8221;</p>
<p>Dia jelas terkejut. Ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan.</p>
<p>&#8220;Sorry, Ma..&#8221; cepat dia bereaksi.</p>
<p>Saya pandangi wajah si cantik anak perempuan saya satu-satunya ini. Dia tahu dia salah. Cukup sudah. Tidak perlu dihakimi, dimarahai apalagi dibentak.</p>
<p>&#8220;Yuk, kita bereskan. Chloe yang lap, ya. Mama yang pungutin pecahannya.&#8221;</p>
<p>Wajahnya langsung cerah. Si kecil tiga tahunku segera mengambil lap di depan pintu kamarnya. Setelah memastikan tidak ada lagi pecahan cangkir, saya ajak dia mengelapi tumpahan air di lantai kamarnya.</p>
<p>Malam itu, Chloe tidur pulas di kamarnya yang bekas tumpahan air di lantainya telah dia keringkan. Saya lega, karena bisa bereaksi dengan tepat. Cukup cangkirnya saja yang pecah, jangan hati anak saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/10/22/cangkir-pecah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Number Rhymes</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/10/04/number-rhymes/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/10/04/number-rhymes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 16:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[handwriting]]></category>
		<category><![CDATA[math]]></category>
		<category><![CDATA[number]]></category>
		<category><![CDATA[rhyme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[These rhymes are excellent to teach the formation of the numbers. 1 Straight down and then you’re done. That’s the way to make a one! 2 Around and back on the railroad track. Two! Two! Two! 3 Around the tree, around the tree. That’s the way to make a three! 4 Down and over and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>These rhymes are excellent to teach the formation of the numbers.</p>
<p>1 Straight down and then you’re done. That’s the way to make a one!</p>
<p>2 Around and back on the railroad track. Two! Two! Two!</p>
<p>3 Around the tree, around the tree. That’s the way to make a three!</p>
<p>4 Down and over and down some more. That’s the way to make a four!</p>
<p>5 Put on a hat. Then take a dive. Make a big round tummy. Now that’s a five! &#8212;or&#8212;- A little bit down. Circle the drive Put on a hat. That makes a five!</p>
<p>6 Make a loop and then a hoop! Six!</p>
<p>7 Across the sky and down from heaven. That’s the way to make a seven!</p>
<p>8 Make an ‘S’ but do not wait. Go back up and close the gate.</p>
<p>9 Make a hoop and then a line. That’s the way to make a nine!</p>
<p>0 Around, around, around you go. That’s the way to make zero!</p>
<p>Author Unknown</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/10/04/number-rhymes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digiscrap Tutorial: Membuat Efek Bayangan Sederhana (PS)</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/08/10/digiscrap-tutorial-membuat-efek-bayangan-sederhana-ps/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/08/10/digiscrap-tutorial-membuat-efek-bayangan-sederhana-ps/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 11:03:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a unique person]]></category>
		<category><![CDATA[digiscrap]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[photoshop]]></category>
		<category><![CDATA[scrapbook]]></category>
		<category><![CDATA[shadow]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Perhatikan gambar ini: Correct me if I&#8217;m wrong, tumpukan kertas pada gambar di atas terasa datar. Begitu flat, sehingga terasa kurang pas. Bagaimana dengan yang ini? Sepertinya lebih baik. Betul? Lihat perbedaannya? Gambar-gambar ini bisa diperbesar ya.. klik aja. Yang membedakan adalah efek bayangan, sehingga kertas-kertas cantik ini lebih kelihatan mirip tumpukan kertas beneran, lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhatikan gambar ini: <a href="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-no-shadow.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-510" title="boys-no-shadow" src="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-no-shadow-300x300.jpg" alt="Boys" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Correct me if I&#8217;m wrong, tumpukan kertas pada gambar di atas terasa datar. Begitu flat, sehingga terasa kurang pas. Bagaimana dengan yang ini?</p>
<p><a href="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-shadow.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-511" title="boys-shadow" src="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-shadow-300x300.jpg" alt="Boys with shadow" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Sepertinya lebih baik. Betul? Lihat perbedaannya? Gambar-gambar ini bisa diperbesar ya.. klik aja.</p>
<p>Yang membedakan adalah efek bayangan, sehingga kertas-kertas cantik ini lebih kelihatan mirip tumpukan kertas beneran, lebih terasa ada kedalaman, ga flat. Maklum, yang namanya digital, tak lebih dari bit dan bytes-lah yang disajikan di layar komputer, sehingga butuh sedikit sentuhan bayangan agar digiscrap yang kita buat terasa lebih realistis.</p>
<p>Ada beberapa cara memberi bayangan, dari yang paling mudah dengan menggunakan efek drop shadow yang sudah disediakan oleh Photoshop sampai teknik yang lebih advanced. Tutorial berikut ini adalah tentang membuat efek bayangan dengan cara yang paling sederhana: drop shadow.</p>
<p>Jika waktu terbatas, saya menggunakan drop shadow. Jika sedang punya banyak waktu atau memang lagi rajin, baru gunakan teknik yang lebih sulit. Kekurangan drop shadow seperti ini adalah bayangan yang ditampilkan tampak sangat rapi dan seragam. Padahal kita tahu di dunia nyata tidak seperti itu, tetapi bagaimana pun, efek drop shadow lebih baik ketimbang tanpa bayangan sama sekali.</p>
<p>Mudah saja memberi bayangan pada tiap elemen pada digiscrap kita. Cukup dengan mengklik dua kali (double click) layer yang dimaksud, maka window kecil ini akan muncul. Beri checkmark pada Drop Shadow, dan mari kita bermain-main dengan angka-angka di situ.</p>
<p><a href="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/layer-style.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-513" title="layer-style" src="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/layer-style-300x223.jpg" alt="" width="300" height="223" /></a></p>
<p>Penjelasan:<br />
Gunakan global light dengan sudut 120 derajat, ini angka yang umum dipakai. Global light berarti semua elemen di sini seolah-olah mendapat cahaya dari sudut yang sama. Yang perlu kita atur adalah distance, spread dan size-nya.</p>
<p>- Blend mode: saya biasanya memilih linear burn, boleh saja jika ingin menggunakan yang lain.<br />
- Distance: 0 (nol)<br />
- Spread : 5 untuk benda kecil, makin besar untuk elemen yang lebih besar/lebih berat. Ini perlu sedikit eksperimen.<br />
- Size: mulai dari 6, makin besar untuk benda yang lebih besar.<br />
- Warna: kita tidak harus menggunakan warna hitam yang jadi default drop shadow, coba saja gunakan warna lain yang lebih natural. Untuk warna terang, sebaiknya gunakan warna yang lebih lembut seperti coklat tua, atau abu-abu, atau temukan sendiri warna yang rasanya lebih pas. Bisa dimulai dengan warna yang tonenya lebih gelap dari warna benda.<br />
Catatan, untuk kertas berwarna terang, atur opacity mejadi 50-65%, agar efek bayangan lebih lembut.</p>
<p>Less is more. Jangan terlalu berlebihan memberi bayangan, sehingga terasa beraaat. Sering2 saja trial dan error. <img src='http://devi.chosenlight.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Seperti ini.</p>
<p><a href="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-web.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-527" title="boys-web" src="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-web-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><a href="http://devi.chosenlight.com/files/2011/08/boys-shadow-bird1.jpg"><br />
</a></p>
<p>Penting: kadang-kadang elemen digiscrap yang kita download SUDAH diberi bayangan oleh desainernya. Hati-hati dan bijak dalam memakainya agar tidak terlihat aneh dan tidak masuk akal. Selalu coba bayangkan ke mana arah bayangan akan jatuh jika disorot dari sebuah sudut tertentu.</p>
<p>Catatan: tutorial ini adalah cara paling mudah/sederhana untuk memberi kesan realistis pada digiscrap kita. Tentu, dengan cara yang  begitu mudah dan ga usah mikir seperti ini, hasilnya tidak akan sangat realistis sehingga begitu amat sangat mirip dengan scrapbook konvensional. *gaya bahasa boros*.</p>
<p>Hehehe. Oke, semoga berguna. Next time kita sambung dengan cara memberi bayangan yang sedikit lebih advanced.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/08/10/digiscrap-tutorial-membuat-efek-bayangan-sederhana-ps/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kimi&#8217;s First Solid Food</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/08/03/kimis-first-solid-food/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/08/03/kimis-first-solid-food/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 05:36:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[kimi]]></category>
		<category><![CDATA[MPASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Kimi mulai makan semi cair hari ini. Semangkuk kecil bubur beras coklat yang encer sekali. Lumayan, dia habiskan cukup banyak, walau wajahnya seperti bertanya-tanya. Waktu yang saya pilih adalah makan siang, pukul 10.30. Saya mengikuti apa yang direkomendasikan wholesomebabyfood, rasa tunggal tiap perkenalan makanan baru dan aturan tunggu 3-4 hari untuk membiasakan dan memastikan tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kimi mulai makan semi cair hari ini. Semangkuk kecil bubur beras coklat yang encer sekali. Lumayan, dia habiskan cukup banyak, walau wajahnya seperti bertanya-tanya. Waktu yang saya pilih adalah makan siang, pukul 10.30.</p>
<p>Saya mengikuti apa yang direkomendasikan <a href="http://wholesomebabyfood.momtastic.com/" target="_blank">wholesomebabyfood</a>, rasa tunggal tiap perkenalan makanan baru dan aturan tunggu 3-4 hari untuk membiasakan dan memastikan tidak alergi terhadap jenis makanan tertentu.</p>
<p>Dengan mulai makan solid ini, berarti Kimi juga sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan. Thank God! Kimi-lah satu-satunya bayi kami yang tidak kami belikan botol, selalu langsung dari sumbernya <img src='http://devi.chosenlight.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a title="Kimi-eat.jpg" href="http://lh6.ggpht.com/-f2YyDBY1R8M/TkON6kf8GtI/AAAAAAAAAH4/WN8gk0uFyko/Kimi-eat.jpg" target="_blank"><img class="alignnone" title="Kimi-eat.jpg" src="http://lh6.ggpht.com/-f2YyDBY1R8M/TkON6kf8GtI/AAAAAAAAAH4/WN8gk0uFyko/Kimi-eat.jpg" alt="Kimi-eat.jpg" width="466" height="466" /></a></p>
<p>This little keepsake is for you to remember, dear baby boy!<a title="Kimi-eat.jpg" href="http://lh6.ggpht.com/-f2YyDBY1R8M/TkON6kf8GtI/AAAAAAAAAH4/WN8gk0uFyko/Kimi-eat.jpg"><br />
</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/08/03/kimis-first-solid-food/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Kimi</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/02/10/kisah-kimi/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/02/10/kisah-kimi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 16:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pampie</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[baby]]></category>
		<category><![CDATA[child]]></category>
		<category><![CDATA[kimi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[3 Februari 2011, tanggal merah menurut kalender Gregorian yang kita gunakan, karena hari ini adalah tahun baru Cina, alias Sincia, alias Imlek. Kimi memilih datang pada hari yang megah ini. Pilihan yang sangat tepat, Nak. Jalanan sepi karena libur, yang berarti Papa juga di rumah. Sebelumnya Mama sempat  kuatir, apakah Papa bisa menemani, mengingat jalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>3 Februari 2011, tanggal merah menurut kalender Gregorian yang kita gunakan, karena hari ini adalah tahun baru Cina, alias Sincia, alias Imlek.</p>
<p><a title="The boy" href="http://lh6.ggpht.com/-1cIg6pw2R7s/TkOONMIKYBI/AAAAAAAAAH8/_4XLKNbCH8g/Kimi-born.jpg" target="_blank"><img class="alignnone" title="The boy" src="http://lh6.ggpht.com/-1cIg6pw2R7s/TkOONMIKYBI/AAAAAAAAAH8/_4XLKNbCH8g/Kimi-born.jpg" alt="Kimi-born.jpg" width="605" height="270" /></a></p>
<p>Kimi memilih datang pada hari yang megah ini. Pilihan yang sangat tepat, Nak. Jalanan sepi karena libur, yang berarti Papa juga di rumah. Sebelumnya Mama sempat  kuatir, apakah Papa bisa menemani, mengingat jalanan Jakarta-Serpong sekarang macetnya sudah ga karu-karuan, padahal kamu bisa datang kapan saja.</p>
<p>Pilihan yang sangat tepat, karena hari itu hari yang damai sekali. Rumah tenang, karena kedua kakakmu sedang menginap di Tanjung Duren, kakak Chloe bahkan tidak mau ikut pulang ke Serpong setelah makan malam bersama di malam Sincia (sam sip ampu &#8212; malam tgl 30 &#8212; menurut adat Omamu), padahal tadinya dia tidak ada rencana ikut menginap.</p>
<p>Dari pukul 8 pagi, sudah terasa kontraksi yang mulai intens, tapi belum terlalu kerap. Jadi Mama pun mandi, bersiap-siap. Rasanya memang kamu akan datang tidak lama lagi. Hampir pukul 10, Papa Mama segera melaju ke RS Puri Indah. Sempat berpapasan di depan rumah dengan tetangga kita, Om Fendy dan Tante Sanny, mereka mendoakan yang terbaik buat kita.</p>
<p>Pukul 10.30 kita sampai di parkiran. Mama segera dibawa dengan kursi roda menuju lantai maternity. Perawat lantas mendorong Mama ke ruang bersalin, karena dia memperkirakan bukaan sudah besar. Dan betul, sudah bukaan 6-7.</p>
<p>Jadi, begitulah, sementara Papa sibuk mengurusi administrasi, kita berdua diurus oleh para perawat dan bidan yang tergopoh-gopoh mempersiapkan kelahiran ini. RS begitu sepi, karena ini hari libur, orang biasanya tidak sengaja memilih melahirkan tanggal segini. Maklum ya, Nak, di Indonesia, melahirkan dengan sectio itu lebih jadi pilihan, mungkin karena predicted, jadi lebih mudah untuk diantisipasi.</p>
<p>Kontraksinya bertambah sakit. Rasanya waktu membeku. Mama hanya bisa berpegangan di sisi ranjang tiap rasa sakit datang mendera. Pilihan waktumu benar-benar baik, karena Papa &amp; Mama sudah cukup beristirahat semalam, dan kali ini Mama masih bisa makan- disuapi Papa, tidak seperti waktu kakakmu Chloe, Mama lemas tidak bertenaga karena tidak bisa makan apa pun.</p>
<p>Bukaan berjalan jauh lebih cepat daripada kelahiran Chloe. Cepat saja kita sudah sampai ke bukaan 9.</p>
<p>Nah, dokter Handi Suryana sudah datang. Beliau baik sekali ya, rela meninggalkan perayaan tahun baru ini untuk menjemputmu keluar. Kurang lebih dua kali mengejan, kamu pun keluar, lahir dengan selamat. Semuanya selamat, walaupun dokter sudah mengingatkan resiko melahirkan normal untuk kedua kalinya setelah mengalami kelahiran by sectio waktu kakakmu Joel dulu.</p>
<p>Mama ingat mendengar tangisanmu yang sangat kencang, keras sekali membelah kesunyian pagi itu, tepat pukul 11.42 wib. Dr Jeanne-Roos Tikoalu mengurusmu sebentar sebelum akhirnya menyerahkanmu ke Mama untuk IMD. Kamu akan belajar menyusu.</p>
<p>Bayi kecil di dadaku, dengan muka bengkak&#8230; Kamu yang selama sembilan bulan ini betah di dalam perutku, membuat kami, Papa Mamamu, bertanya-tanya, kapan kamu memutuskan akan keluar.</p>
<p>Semua orang yang Mama kenal berkata, tanggal lahirmu bagus sekali, pas Imlek, karena Mama mendapat angpao yang begitu istimewa, seorang bayi laki-laki yang akan segera meramaikan rumah kita.</p>
<p>Selamat datang, Joachim.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/02/10/kisah-kimi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kimi, Our Little Racer</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2011/02/03/kimi-our-little-racer/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2011/02/03/kimi-our-little-racer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 16:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[baby]]></category>
		<category><![CDATA[child]]></category>
		<category><![CDATA[kimi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devi.chosenlight.com/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[We welcome Joachim Clement Adiwijaya, our dear baby boy. A heaven sent angel, a beautiful gift from heaven, to love with all our hearts, to hold in our arms, to be taught in His ways. Welcome, son. Welcome to our family.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Joachim" href="http://lh3.ggpht.com/-EAjyTHJKe_E/TkOORS1WZuI/AAAAAAAAAII/NFtFODdLj0I/kimi-crib.jpg"><img class="alignnone" title="Joachim" src="http://lh3.ggpht.com/-EAjyTHJKe_E/TkOORS1WZuI/AAAAAAAAAII/NFtFODdLj0I/kimi-crib.jpg" alt="kimi-crib.jpg" width="336" height="505" /></a></p>
<p>We welcome Joachim Clement Adiwijaya, our dear baby boy. A heaven sent angel, a beautiful gift from heaven, to love with all our hearts, to hold in our arms, to be taught in His ways.</p>
<p>Welcome, son. Welcome to our family.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2011/02/03/kimi-our-little-racer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Untuk Para Penerjemah</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2010/08/03/catatan-untuk-para-penerjemah/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2010/08/03/catatan-untuk-para-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 09:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a unique person]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[editor]]></category>
		<category><![CDATA[penerjemah]]></category>
		<category><![CDATA[translate]]></category>
		<category><![CDATA[translation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.chosenlight.com/blog/2010/08/catatan-untuk-para-penerjemah/</guid>
		<description><![CDATA[Baru sekali ini saya dapat tugas jadi editor sebuah buku berhalaman banyak (hampir 300 hal). Buku rohani, non-fiksi pula. Belum-belum, baru di halaman persembahan, kening saya sudah berkerut, berlipat-lipat. Saya tidak mengerti apa yang saya baca&#8230;. padahal itu dalam bahasa saya! Ada yang salah dengan diri saya? Hhhh.. (menghela napas)&#8230; Saya teringat, bahwa beberapa waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru sekali ini saya dapat tugas jadi editor sebuah buku berhalaman banyak (hampir 300 hal). Buku rohani, non-fiksi pula.</p>
<p>Belum-belum, baru di halaman persembahan, kening saya sudah berkerut, berlipat-lipat. Saya tidak mengerti apa yang saya baca&#8230;. padahal itu dalam bahasa saya! Ada yang salah dengan diri saya?</p>
<p>Hhhh.. (menghela napas)&#8230;</p>
<p>Saya teringat, bahwa beberapa waktu ini saya juga sering mengalami momen seperti ini saat membaca buku-buku terjemahan, termasuk terbitan penerbit besar.</p>
<p>Pernah sekali saya mencoba menerjemahkan buku, tipis saja, di bawah 100 halaman. Tetapi saya ingat, saya sampai panas-dingin karena merasa kesulitan teramat sangat untuk menghadirkan aura buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Maka, karir saya sebagai penerjemah berakhir di buku itu. Saya kapok! Gak lagi, deh.</p>
<p>Saya segera menyadari betapa sulitnya tugas seorang penerjemah dalam mengalihkan bahasa. Dia tidak sekedar mencari terjemahan sebuah kata ke dalam bahasanya, dia juga wajib membuat jembatan sehingga perbedaan bahasa bisa terseberangi, pembaca menangkap setiap esensi yang ingin disampaikan penulis. Lebih baik lagi jika keindahan karya tulis itu juga bisa tetap tersaji.</p>
<p>Tadinya saya pikir menerjemahkan itu adalah tugas gampang. Apa susahnya sih menerjemahkan? Kalau ga tau artinya, kan tinggal buka kamus toh? Tetapi ternyata tidak semudah itu. Tidak segampang itu. Kecuali penerjemahnya tidak punya tanggung jawab moral.</p>
<p>Terus terang, kualitas penerjemahan sekarang sudah bergeser menurun dibanding dekade-dekade lalu. Saya ingat, buku-buku Enyd Blyton, Astrid Lindgren, buku2 Asterix, Tintin, termasuk Harry Potter yang paling mutakhir, semuanya bisa dibaca dengan lancar, tanpa harus jago bahasa Inggris. Untuk buku rohani, buku Max Lucado berjudul Allah Masih Melakukan Mukjizat (Andi); yang adalah pertemuan saya dengan karya pengarang ini; membuat saya jatuh hati karena diterjemahkan dengan sangat baik dan tidak mengurangi sama sekali keindahan gaya tutur seorang Max Lucado, padahal desainnya sangat sederhana, background hitam bintik-bintik dengan font ala wordart-nya Microsoft Word. Buku-buku berikutnya yang hadir dalam balutan cover lebih mewah dari Bina Rupa Aksara justru belum mampu mengungguli yang dari Andi.</p>
<p>Kembali ke tugas penerjemah.. Kenapa sih penerjemahan cenderung turun kualitasnya?</p>
<p>Konon kabarnya penerbit2 besar pelit membayar honor penerjemah. Akibatnya mereka menjaring penerjemah2 dengan jam terbang minim, yang mau dibayar lebih rendah.</p>
<p>Saya tidak mengejek siapa-siapa. Saya mengejek diri sendiri. Pengalaman saya menerjemahkan satu2nya buku itu menyadarkan saya. Saya tidak <em>qualified</em>. Mungkin bahasa Inggris saya lumayan, nilai bahasa Inggris saya di rapor selalu di atas 8, nilai NEM bahasa Inggris saya di SMP dan SMA di atas 9. Tapi itu tidak berarti saya jago bahasa Inggris, lho. Saya hanya jago pelajaran bahasa Inggris. Hehe.</p>
<p>Masih banyak penerjemah yang &#8216;malas&#8217; membaca ulang hasil terjemahannya. Sering ga enak dibaca lho.. coba deh baca, kalau yang nerjemahin sendiri ga ngerti apa yang penulis mau sampaikan, gimana berharap pembaca ngerti? Menurut saya, penerjemah punya tugas mencarikan kata terbaik dalam bahasanya untuk mewakili bahasa asing yang sedang dia terjemahkan itu. Parahnya, kalau ketemu editor malas juga.. sudahlah, hancur sudah itu hasil terjemahan.</p>
<p>Bagaimana pun saya bukan penutur asli. Saya bisa salah memahami apa yang dimaksud penulis. Lagipula tulisan itu kadang punya makna bersayap, kadang kata2 itu ternyata adalah sebuah idiom, yang walhasil diterjemahkan kata per kata oleh penerjemah yang memang tidak punya budaya yang sama.</p>
<p>Saya ingat dalam sebuah tugas pengeditan, sebuah idiom: every cloud has a silver lining, diterjemahkan begitu saja sebagai: setiap awan pasti punya garis keperakan; tanpa dijelaskan lebih jauh arti peribahasa ini. Kemungkinan si penerjemah tidak tahu ini adalah sebuah idiom.</p>
<p>Penerjemah (yang bukan penutur asli, yang tidak benar-benar fasih, yang tidak pernah tinggal di negara berbahasa tersebut) harus banyak membaca dalam bahasa yang &#8216;maunya&#8217; jadi spesialisasi dia. Lalu, dia harus coba menulis juga dalam bahasa itu., makin sering makin baik, karena jika kita mulai terbiasa mengungkapkan perasaan kita dalam bahasa asing tersebut, kita jadi lebih gampang memahami maksud penulis. Membaca, menulis, membaca, menulis, riset di internet &#8212; seperti yang saya lakukan setiap ketemu kata sulit. Saya selalu googling kata sulit itu sampai saya berhasil menangkap maknanya dan bisa menulisnya kembali dalam bahasa saya.</p>
<p>Justru, menurut saya, penerjemah ga usah terlalu pusing dengan tata bahasa Bahasa Indonesia, itu tugas editor. Yang penting, carikanlah kata yang paling tepat dalam bahasa kita, makna yang paling mendekati.</p>
<p>Kesulitan terbesar penerjemahan, menurut saya, yaitu sering saat membaca kita mengerti, tapi hanya di dalam pikiran. Kita tidak berhasil meng-indonesiakannya. Kita tidak berhasil membawanya ke luar pikiran kita. Justru di situlah tantangan jadi penerjemah. Jadi jembatan, jadi komunikator.</p>
<p>Camkanlah.. karya kita akan dibaca banyak orang. Walaupun honornya mungkin ga seberapa (doakan saja penerbit lebih bermurah hati), tapi adalah tanggung jawab kita untuk membawa pembaca memahami apa yang dia baca. Jangan sampai tambah pusing setelah membaca hasil terjemahan kita. <img src='http://devi.chosenlight.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2010/08/03/catatan-untuk-para-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>McRuffy Press</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2010/05/19/mcruffy-press/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2010/05/19/mcruffy-press/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 18:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[McRuffy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.chosenlight.com/blog/2010/05/mcruffy-press/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada yang pengen tahu. Setelah MFW First Grade selesai nanti, saya akan pindah sejenak ke model textbook (tapi harus yang fun) dan akan saya kombinasikan dengan Heart of Dakota yang begitu gentle dan uhmm.. rileks. Saya tidak akan buru-buru ambil kurikulum Second Grade. Saya ingin Joel belajar dengan cara yang lain selain yang ditawarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin ada yang pengen tahu.</p>
<p>Setelah MFW First Grade selesai nanti, saya akan pindah sejenak ke model textbook (tapi harus yang fun) dan akan saya kombinasikan dengan <a href="http://homeschool.chosenlight.com/2010/02/heart-of-dakota/" target="_blank">Heart of Dakota</a> yang begitu gentle dan uhmm.. rileks.</p>
<p>Saya tidak akan buru-buru ambil kurikulum Second Grade. Saya ingin Joel belajar dengan cara yang lain selain yang ditawarkan MFW. Bahkan science saya pilihkan yang first grade juga. Menurut saya, science itu sifatnya umum, ya seperti pengetahuan umum gitu, susah mau distandarkan. Jadi buat saya Joel tidak sedang downgrade, tapi sedang belajar dengan cara yang lain.</p>
<p>McRuffy jadi pilihan saya. Sempat batal karena biaya pengirimannya dari US-Indonesia mencapai Rp 1 juta. Untung ketemu dengan forwarder yang siap membantu membelikan dan mengantar buku-buku ini ke rumah. Kebayang kalo saya harus menebusnya lagi di kantor pos. Box-nya berat banget!</p>
<p>Kesan pertama saya, puas. Harganya sesuai dengan yang saya dapat. Untuk 3 kurikulum di bawah ini saya mengeluarkan uang Rp 3.050.000. Itu sudah termasuk ongkos kirim. Jika dibagi 12 bulan, berarti pengeluaran saya adalah Rp 250.000. Cukup terjangkau kan? Saya bahkan tidak perlu keluar dari pekarangan rumah untuk mengambil kurikulum ini.</p>
<p>Inilah pertama kali kami punya kurikulum berwarna. Walaupun gambarnya sederhana (digambar sendiri oleh penyusun kurikulum ini), buku-bukunya tampil rapi, kertasnya bagus, covernya sudah dilaminating, saya juga suka plastic wire-nya yang simpel.</p>
<p>Saya juga suka karena McRuffy berbaik hati melaminasikan board game, beberapa chart, juga item-item lain. Saya juga suka dengan lab kit untuk sciencenya.. bahkan kelereng aja dimasukkan ke dalamnya. Saya senang, karena sebagian besar kerepotan saya bisa dieliminasi. Mungkin karena Brian Davis sang penyusun, adalah seorang guru sekolah. Dia nampaknya mengerti betul kerepotan seorang pengajar.</p>
<p>Berikut detail kurikulum yang saya beli. Saya belum bisa kasih review tentang isi, karena baru baca yang Science. Sejauh ini manual pengajar cukup mudah dimengerti, penjabaran cukup detail, jadi ortu tidak perlu kuatir harus ngomong apa dengan anak. Hehehee.</p>
<p>Gambar-gambar di bawah ini bisa diklik ya.</p>
<p><strong>First Grade Language Arts</strong></p>
<p>Ini adalah pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 1 SD, sudah termasuk Reading &amp; Spelling. Belum termasuk handwriting.</p>
<p>Isi kurikulumnya adalah:<br />
2 buku manual untuk ortu/guru<br />
2 workbook, satu untuk reading, satu untuk spelling<br />
34 buku bacaan sederhana (reader)<br />
1 pack additional resource &#8211; isinya macem-macem, ada boardgame, copymaster, chart, dll. Sudah dilaminating dengan baik oleh mereka.</p>
<p>Linknya di sini: <a href="http://mcruffy.com/1P.htm">http://mcruffy.com/1P.htm</a></p>
<p><a href="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-la-1stgrade.jpg"><img src="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-la-1stgrade-small.jpg" alt="mcRuffy-LA-1stgrade" width="450" height="260" hspace="2" vspace="2" /></a></p>
<p><strong>Second Grade Math</strong></p>
<p>Enaknya homeschool, kita bisa campur-campur kurikulum tanpa ada patokan level, usia, dll.</p>
<p>Joel saya belikan yang second grade, karena memang setelah dilihat topik yang dicakup di first grade sudah dia kuasai.</p>
<p>Isi paket:<br />
1 buku manual pengajar<br />
1 workbook<br />
1 Resource Pack yang isinya permainan2 sesuai topik yang dipelajari<br />
1 Response Book</p>
<p>2 bungkus manipulatives kit</p>
<p><a href="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-math-2ndgrade.jpg"><img src="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-math-2ndgrade-small.jpg" alt="mcRuffy-math-2ndgrade" width="450" height="279" hspace="2" vspace="2" /></a></p>
<p>Linknya di sini: <a href="http://mcruffy.com/2M.htm">http://mcruffy.com/2M.htm</a></p>
<p><strong>1st Science</strong></p>
<p align="center"><a href="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-science-1stgrade.jpg"><img src="http://www.chosenlight.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/mcruffy-science-1stgrade-small.jpg" alt="mcRuffy-science-1stgrade" width="450" height="304" hspace="2" vspace="2" /></a></p>
<p>Ini science untuk kelas 1 SD. Di dalamnya sudah tercakup empat bentuk science,<br />
* Physical Science<br />
* Earth Science</p>
<p>* Life Science</p>
<p>* Scientific Inquiry</p>
<p>Paketnya terdiri dari:<br />
1 manual pengajar<br />
1 workbook<br />
1 resource pack<br />
1 lab kit</p>
<p>Linknya: <a href="http://mcruffy.com/1Sc.htm">http://mcruffy.com/1Sc.htm</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2010/05/19/mcruffy-press/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When God Spoke to a Kid&#8217;s Heart</title>
		<link>http://devi.chosenlight.com/2010/05/03/when-god-spoke-to-kids-heart/</link>
		<comments>http://devi.chosenlight.com/2010/05/03/when-god-spoke-to-kids-heart/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 16:07:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devi</dc:creator>
				<category><![CDATA[as a mom]]></category>
		<category><![CDATA[Joel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.chosenlight.com/blog/2010/05/when-god-spoke-to-kids-heart/</guid>
		<description><![CDATA[Saat Teduh secara teratur benar-benar powerful. Saya harus malu sama Joel. Tanpa sedikit pun membantah, selama lebih dari dua minggu terakhir ini, Joel rutin ber-Saat Teduh dengan bahan yang diberikan dari gereja anak di tempat kami. Tadinya Joel hanya berdoa saja setelah bangun pagi, itu pun saya tidak tahu apakah dia benar-benar berdoa. Tapi saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat Teduh secara teratur benar-benar powerful. Saya harus malu sama Joel.</p>
<p>Tanpa sedikit pun membantah, selama lebih dari dua minggu terakhir ini, Joel rutin ber-Saat Teduh dengan bahan yang diberikan dari gereja anak di tempat kami. Tadinya Joel hanya berdoa saja setelah bangun pagi, itu pun saya tidak tahu apakah dia benar-benar berdoa. Tapi saya percaya padanya. <img src='http://devi.chosenlight.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pernah, suatu malam kami agak kelelahan karena acara sepanjang hari, dan tidur sudah agak malam, kami &#8216;lupa&#8217; menemaninya Saat Teduh. Sampai hari ini kami masih melakukannya di malam hari, karena itulah saat Papanya bisa menemaninya, saya memang ingin Pampi yang pegang peranan ini, jadi imam buat anaknya.</p>
<p>Back to Joel. Apa yang terjadi? Tidak lama setelah kami masuk kamar, terdengar pintu kamar Joel dibuka, dan dia segera membuka pintu kamar kami. Joel meminta Papanya menemani dia Saat Teduh, waktu itu sudah hampir pukul 11 malam.</p>
<p>See? Anak-anaklah yang merasakan manfaatnya. Jika selama ini kita berpikir, seberapa sih yang bisa dipahami seorang anak berumur 6 tahun tentang Tuhan, tentang isi Firman Tuhan, dll &#8212; kini saya mengerti, walaupun mungkin dia tidak bisa mengutarakannya, sesuatu telah menyentuh hatinya, berbicara padanya, dan mengubah hidupnya.</p>
<p>Minggu pertama, Joel membaca Firman tentang ketaatan dengan role model Abraham. Minggu kedua, bacaannya tentang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Minggu ketiga tentang mengasihi sesama.</p>
<p>Banyak perubahan terjadi dan itu sangat menyentuh hati dan membukakan mata saya bahwa Tuhan mampu mengubah hati yang paling keras sekali pun, Firman Tuhan punya kuasa dahsyat mengubah hati seorang anak yang sebegitu pemalunya.</p>
<p>Joel sekarang lebih bisa berinteraksi dengan orang lain, bisa menanyakan pertanyaan seperti ,&#8221;Auntie, kapan ke sini lagi?&#8221;. Pertanyaan langka dari mulut seorang Joel. Sosialasi yang saya kuatirkan, tidak perlu lagi jadi beban pikiran saya.</p>
<p>Juga, hari Minggu yang lalu Joel membawa pulang sebuah sticker dari sekolah minggu. Walaupun sudah didesak-desak, dia bilang dia tidak mau cerita dari mana asalnya sticker itu. Satu-satunya clue yang dia berikan adalah, tidak semua anak mendapat sticker itu. Itu berarti dia melakukan sesuatu, bukan? Tapi dia tidak mau cerita juga.</p>
<p>Sampai hari ini, saya iseng tanya, &#8220;Kamu dapat sticker karena nyanyi di depan?&#8221; Bukan! katanya. &#8220;Tidak mau cerita.&#8221; Tiba-tiba saya dapat ide, &#8220;Kalau begitu pasti karena ayat hafalan.&#8221; Dia langsung mengiyakan. Wow! Hati saya bersorak kegirangan. Anak ini biasanya malu bahkan terkesan tak acuh pada kegiatan di sekolah minggu-nya. &#8220;Ditanya siapa yang mau maju sebutin ayat hafalan,&#8221; tambahnya lagi. Ini sih dobel wow! Berita hebat! Saya harus menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa atau terlalu excited karena Joel biasanya jadi risih dan malu.</p>
<p>Malam ini, ketika saya menemaninya Saat Teduh karena Papanya belum pulang, kami membaca tentang taat kepada orangtua sebagai implikasi dari mengasihi orangtua, Markus 19:19. Anak-anak diajak merenungkan betapa pentingnya orangtua buat mereka. Bahwa salah satu bentuk mengasihi orangtua (yang juga sesamanya) adalah dengan menaatinya. Juga anak-anak diajak minta maaf sama orangtua jika selama ini pernah melawan.</p>
<p>&#8220;Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu melawan ortu? Ayo minta maaf sama ortumu, &#8221; begitu tulisan di bahan Saat Teduhnya.</p>
<p>&#8220;Nah, Joel mau minta maaf, ga?&#8221; tanya saya ga terlalu yakin.</p>
<p>&#8220;Mau. Gimana caranya?&#8221;</p>
<p>Maka saya ajari. Lalu dia mengulanginya ke saya. Saya sangat terharu. Saya peluk dia sambil berkata, &#8220;Mama maafkan&#8221;. Hati Joel lembut sekali, begitu mudah diajar. Biasanya Joel tidak mau melakukan hal-hal &#8216;memalukan&#8217; seperti ini.</p>
<p>Kemudian saya minta dia melakukannya ke Papanya. Setelah &#8216;mengusir&#8217; saya keluar &#8212; karena malu &#8212; dia minta maaf sama Papanya. Walau saya diultimatum untuk tidak mendengar, saya pasang kuping juga di pintu kamarnya, hati saya seperti disiram kesegaran luar biasa.</p>
<p>Sepertinya materi yang dia dapat selama ini dari kurikulum First Grade My Father&#8217;s World juga sedikit banyak telah menaburkan sesuatu di dalam hatinya. Ketaatan 100%, kesediaan melakukan perintah Tuhan, kehebatan dan mujizat-mujizat yang Dia lakukan, telah membuatnya lebih &#8216;aware&#8217; tentang siapakah Tuhan yang kami, orangtuanya, percaya. Saya sungguh berharap kami berdua bisa menuntun Joel terus mengenal seorang Pribadi yang sungguh-sungguh mengasihi dia dan menerima Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya. Ini baru awal.</p>
<p>Many thanks to you, my God. I&#8217;ve witnessed the power of Your Word. Please God, do continue to work in us to make us what You want us to be.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devi.chosenlight.com/2010/05/03/when-god-spoke-to-kids-heart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

