3 Februari 2011, tanggal merah menurut kalender Gregorian yang kita gunakan, karena hari ini adalah tahun baru Cina, alias Sincia, alias Imlek.

Kimi memilih datang pada hari yang megah ini. Pilihan yang sangat tepat, Nak. Jalanan sepi karena libur, yang berarti Papa juga di rumah. Sebelumnya Mama sempat kuatir, apakah Papa bisa menemani, mengingat jalanan Jakarta-Serpong sekarang macetnya sudah ga karu-karuan, padahal kamu bisa datang kapan saja.
Pilihan yang sangat tepat, karena hari itu hari yang damai sekali. Rumah tenang, karena kedua kakakmu sedang menginap di Tanjung Duren, kakak Chloe bahkan tidak mau ikut pulang ke Serpong setelah makan malam bersama di malam Sincia (sam sip ampu — malam tgl 30 — menurut adat Omamu), padahal tadinya dia tidak ada rencana ikut menginap.
Dari pukul 8 pagi, sudah terasa kontraksi yang mulai intens, tapi belum terlalu kerap. Jadi Mama pun mandi, bersiap-siap. Rasanya memang kamu akan datang tidak lama lagi. Hampir pukul 10, Papa Mama segera melaju ke RS Puri Indah. Sempat berpapasan di depan rumah dengan tetangga kita, Om Fendy dan Tante Sanny, mereka mendoakan yang terbaik buat kita.
Pukul 10.30 kita sampai di parkiran. Mama segera dibawa dengan kursi roda menuju lantai maternity. Perawat lantas mendorong Mama ke ruang bersalin, karena dia memperkirakan bukaan sudah besar. Dan betul, sudah bukaan 6-7.
Jadi, begitulah, sementara Papa sibuk mengurusi administrasi, kita berdua diurus oleh para perawat dan bidan yang tergopoh-gopoh mempersiapkan kelahiran ini. RS begitu sepi, karena ini hari libur, orang biasanya tidak sengaja memilih melahirkan tanggal segini. Maklum ya, Nak, di Indonesia, melahirkan dengan sectio itu lebih jadi pilihan, mungkin karena predicted, jadi lebih mudah untuk diantisipasi.
Kontraksinya bertambah sakit. Rasanya waktu membeku. Mama hanya bisa berpegangan di sisi ranjang tiap rasa sakit datang mendera. Pilihan waktumu benar-benar baik, karena Papa & Mama sudah cukup beristirahat semalam, dan kali ini Mama masih bisa makan- disuapi Papa, tidak seperti waktu kakakmu Chloe, Mama lemas tidak bertenaga karena tidak bisa makan apa pun.
Bukaan berjalan jauh lebih cepat daripada kelahiran Chloe. Cepat saja kita sudah sampai ke bukaan 9.
Nah, dokter Handi Suryana sudah datang. Beliau baik sekali ya, rela meninggalkan perayaan tahun baru ini untuk menjemputmu keluar. Kurang lebih dua kali mengejan, kamu pun keluar, lahir dengan selamat. Semuanya selamat, walaupun dokter sudah mengingatkan resiko melahirkan normal untuk kedua kalinya setelah mengalami kelahiran by sectio waktu kakakmu Joel dulu.
Mama ingat mendengar tangisanmu yang sangat kencang, keras sekali membelah kesunyian pagi itu, tepat pukul 11.42 wib. Dr Jeanne-Roos Tikoalu mengurusmu sebentar sebelum akhirnya menyerahkanmu ke Mama untuk IMD. Kamu akan belajar menyusu.
Bayi kecil di dadaku, dengan muka bengkak… Kamu yang selama sembilan bulan ini betah di dalam perutku, membuat kami, Papa Mamamu, bertanya-tanya, kapan kamu memutuskan akan keluar.
Semua orang yang Mama kenal berkata, tanggal lahirmu bagus sekali, pas Imlek, karena Mama mendapat angpao yang begitu istimewa, seorang bayi laki-laki yang akan segera meramaikan rumah kita.
Selamat datang, Joachim.