Wed, 22 Feb 2012; 07:49:41 PM

Posts Tagged ‘dokter’

Dokter Anak Ga Harus yang Laris

Friday, October 28th, 2011

Pengalaman beberapa kali mengantar anak berobat ke dokter, saya cenderung mencari dokter yang tidak terlalu ramai peminatnya.

Saya heran dengan orangtua yang sabar dan rela menunggu dokter berjam-jam untuk Dokter anak Tidak masuk akal menurut saya, jika kita harus mengantri berjam-jam untuk mengobati anaknya bahkan sekedar imunisasi. Bukan apa-apa, kalau anak sedang sakit dan sakit itu membuatnya tidak nyaman, tahu sendiri kan seperti apa rewelnya. Apalagi imunisasi! Rasanya tidak perlu lah antri berjam-jam supaya bisa divaksin oleh dokter beken. Di posyandu aja imunisasi dasar diberikan gratis, dan tidak mungkinlah dokter-dokter laris itu mau praktek di Posyandu yang ga ada duitnya.

Hari Minggu lalu, sekitar pukul 8 malam, di sebuah klinik ibu & anak dekat rumah kami….

Chloe demam (di atas 38,3 C maksudnya), rewel sekali, tidak mau makan, sejak kemarin pagi. Maka, kami membawanya ke klinik dekat rumah kami dengan maksud, jika demam masih berlanjut sampai hari ke-3, dan butuh diobati, sudah ada obatnya… maklum, hubby Pampi kalo hari kerja pulangnya cukup malam dan biasanya sudah dibikin sangat kelelahan oleh macetnya Jakarta – Tangerang.

pediatric.jpg Dokter yang praktek hari ini (Minggu, lho) adalah salah seorang dokter anak yang sudah terkenal laris banget di kalangan ortu di daerah sini. Saya bukan jenis ortu yang mengejar dokter laris, soalnya yang namanya dokter laris pasti ngantri berat, dan konsultasi biasanya terburu-buru.

Benar saja. Kami dapat no. urut 17, berarti sekitar 2 jam lagi-lah. Bayangkan jika membawa anak sakit yang sedang rewel, betapa tidak menyenangkannya! Belum lagi kami harus bawa bayi Kimi, kan? Karena rumah kami dekat, kami bisa tunggu di rumah saja. Syukurlah.

1 jam 45 menit kemudian, kami datang lagi. Sudah no. 15. ;) Good!

Ketika sudah sampai giliran kami, kejengkelan saya dimulai. Joel dan Chloe sedang asik bermain di tempat main yang mereka sediakan, dan Pampi sedang memanggil mereka. Perawat berkomentar, “Cepetan, Bu. Ada yang sudah nunggu lama. Dokter juga mau pulang.”

Excuse, me? Ini klinik anak-anak, kan? Ga tau kalo anak-anak lagi main itu ga gampang disuruh langsung berhenti?

Di dalam, sang dokter juga tidak lebih ramah. Chloe akhirnya masuk (saya sudah di dalam bersama Kimi), dokter bertanya tentang gejala-gejala, lalu menyuruhnya berbaring di ranjang. Setelah itu dia langsung menulis resep.

Saya mencoba menjajal seberapa informatif dokter ini, “Dok, anak kalau sakit kenapa ya, matanya sayu?”

Jawabannya sungguh melecehkan intelejensi, “Yang namanya sakit kan pasti sayu.”

Saya kejar, “Hubungannya?”

Pak Dokter agak terperanjat, sepertinya tidak mengira saya akan mengejarnya, “Orang sakit kan tidurnya ga pulas, lemes. Kita kalo lemes juga matanya sayu.”

Dia pasti akhirnya sadar kalo bukan jawaban seperti itu yang saya tunggu, ketika menambahkan sesuatu kira-kira seperti ini, “Kalau sakit kantung air mata bengkak.” Sebenarnya saya tidak terlalu menyimak apa yang dia katakan, saya cuma ingin melihat reaksi dokter laris ini.

Maka, lalu Chloe diperiksa. Tidak ada kata-kata manis membujuk untuk anak tiga tahunku. Bahkan, Joel yang keluar masuk (dan memang cukup mengganggu), ditegur oleh perawat, “Kalau nakal nanti disuntik!” WAKS.

Tentu saja saya jadi harus menenangkan Chloe yang sedang sangat tidak kooperatif.

Akhirnya, kami kembali ke meja. Dokter menulis resep, antibiotik, obat racik, dan obat alergi, karena beliau berpendapat alergi adalah 20% penyebab sakit Chloe. Menurut Pak Dokter, tenggorokan Chloe radang, ada infeksi.

“Harus antiobiotik, Dok?”

“Terserah, Ibu. Kalau ada apa-apa dengan anak ibu, pneumonia, saya tidak mau tanggung.”

Yeeee…. Ngancem. Dokter anak, kok, kayak gitu si kelakuannya? Hilang sudah respek saya pada dirinya, yang konon adalah salah satu pemegang saham klinik ibu dan anak ini.

Keesokan malamnya, kami ke RS dekat rumah. RS ini saya kenal ramah anak. Dan benar saja.

Perawat ramah menyapa, Pak Dokter pun tak kalah bersahabatnya. Chloe diajak ngobrol dulu, coba diambil dulu hatinya. Lalu diperiksa, beberapa kali Dokter membujuk Chloe yang sedang heboh menangis. *beda banget dengan kejadian semalam* Di RS ramah anak ini, anak-anak diperlakukan dengan baik, dijaga betul supaya tidak trauma. Semoga terus begitu.

“Tidak saya kasih antibiotik, ya. Tidak ada infeksi,” kata sang pediatris.

WHAT? Lalu semalam itu apa? Dokter di klinik itu ngarang? Saya berjanji dalam hati ga akan balik lagi konsul ke dia, kecuali terpaksa. :p

“Ga ada, Dok?”

Dokter menggeleng. Lalu menulis beberapa resep. Ada puyer. Saya selalu curiga dengan puyer. Oh, ternyata isinya cuma satu, itu pun dalam rangka mengurangi bobot obat agar lebih tepat untuk ukuran anak sebesar Chloe.

Begitu.

Saya selalu heran dengan dokter anak yang tidak suka anak-anak. Buat apa, Dok. Lebih baik jadi dokter kosmetik atau bedah plastik aja, kali? Duit banyak, pasien ga akan meronta-ronta cengeng, ngompol, diare, atau pun beringus.

Sigh. Udahlah. Semoga ada dokter yang baca.